Jejak Perjalanan ke Bukit Karanganyar | Pondok Qtadabbur

“Assalamu’alaikum.., Pak, kami sudah di sebelah Masjid Madinah Al Munawaroh..”

Dari dalam mobil yang kami tumpangi bersama pengurus Al Ibrah Gresik , kami mencoba menghubungi Pak Heru , Pendiri Pondok Qtadabbur yang berada di Desa Puntukrejo, Kecamatan Ngargoyoso Kabupaten Karanganyar Jawa Tengah.

Setelah beberapa kali menghubungi, baru panggilan ke kali sekian, bisa nyanthol, maklumlah daerah pegunungan memang terkadang sinyal tiba-tiba “lep” menghilang.

Sebenarnya kami sudah yakin dengan bantuan map kalo itu lokasinya, hanya saja pingin memastikan, “Apakah kendaraan roda empat bisa masuk?”

Jalanan yang sempit, apalagi dari ketinggian dan harus belok tajam ke kanan..

Hmmmm… Rasanya kudu lurus dulu ini.. , terus putar balik, untuk memudahkan kita belok..
Namun, belum sampai menunggu lama, Pak Heru sudah lebih dulu menjemput kami dengan jalan kaki..

“Berarti lokasinya sudah dekat..”
Iya benar.. lokasi Pondok Qtadabbur memang tidak jauh dari jalan utama.

Kami pun langsung menuju ke pondokan yang belum satu tahun dimulai pembangunannya.
Meski masih baru, namun terlihat rencana yang matang untuk pengembangan ke depannya.

Mulai dari tempat parkir kendaraan, tangga menuju musholla, dan tempat-tempat outbond sudah tertata sangat rapi. Tebing bebatuan di atas tempat parkir tertulis “Iqro”, menjadi gambaran jelas bagi kami konsep pondok ini.

Pendiri pondok Qtadabbur adalah walimurid alumni Tpq Al Ibrah dan Kbtkit Al Ibrah . Konsep pondok yang dibangun adalah mengedepankan Al Quran, dengan cara dibaca, dipahami, diamalkan dan dimasyarakatkan.

Bincang santai kami diawali dengan kesan pak Heru selama menjadi walimurid Al Ibrah yang waktu itu anaknya masih di TPQ dan KB-TKIT Al Ibrah.

“Anak-anak sudah pada hafal surat-surat pendek, bahkan hadits-hadits dan doa-doa harian, mereka juga hafal. ” tuturnya.

“Mereka”, lanjut Pak Heru, “bisa tak segan-segan mengingatkan dan mengajari kami, para orangtua.”

Obrolan pun semakin  gayeng ,  motivasi dan inspirasi dari beliau  terasa mengalir ke dalam.  Kami dan semua yang hadir larut dalam paparan yang disampaikan, sampai tak terasa puluhan meni dan  “ngglimek” suguhan polo pendem, hasil panen tanaman sekitar.

Ternyata tinggal di daerah tanpa polusi udara itu maknyus ya..(*)

Dokumen foto :

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *