Idealisme Sebuah Proses Berlajar Mengajar

Oleh: Rofi’ munawar*

Foto Pak Rofi' di Cover

ayat“Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.”

(QS: Ali Imran Ayat: 164)

Pendidikan adalah sebuah proses, lazimnya sebuah proses maka ada tahapan yang harus ditempuh dan mekanisme yang harus dijalankan. Tahapan tersebut dari tidak tahu menjadi tahu, dari tahu menjadi paham dan dari paham menuju aplikasi di lapangan. Adapun mekanisme biasanya lebih bertumpu kepada manhaj atau metodologi yang digunakan dalam melakukan pembelajaran, dimana sering dikenal dengan pendekatan teoritis dan praktis.

Dalam perkembangannya proses belajar sejatinya tidak bisa berjalan satu arah (one way communications), namun harus dilakukan dua arah (two way communications) agar terjadi proses penyempurnaan pengaruh tranformasi, baik transformasi nilai maupun transformasi sikap (baca: keteladanan). Karenanya akan lebih baik jika dari seluruh proses pembelajaran tersebut, disempurnakan dengan melakukan alih informasi atau transfer ilmu kepada generasi setelahnya, dengan mengedepankan dua pendekatan tadi, transformasi nilai dan transformasi sikap.

Pola transformasi ilmu seperti ini akan kita temukan dalam kehidupan Rasullah SAW, sang murobbi umat dan penginspirasi kejayaan Islam. Dari tangan beliau,-dengan izin Allah- kecerdasan intelektual dan character building telah berhasil melahirkan pribadi-pribadi yang memiliki mental dan talenta luar biasa seperti khulafaurrasyidin dan para sahabat.

Kehidupan Nabi Muhammad SAW adalah sebuah contoh refleksi tentang proses pembelajaran yang bertahap dan berkesinambungan, dengan berlandaskan kepada nilai-nilai keimanan kepada Allah SWT. Dalam dunia pendidikan cara seseorang mendapatkan informasi atau menempuh proses pembelajaran secara umum melalui pengetahuan (kognitif), pengalaman (afektif) dan aksi langsung (Konatif). Seluruh cara tersebut pada akhirnya memberikan kontribusi terhadap karakteristik kepribadian seseorang dalam melakoni tugas kehidupan.

Di dalam surat Ali Imran Ayat 164, Allah SWT memberitahukan kepada seluruh ummat manusia bahwa Muhammad SAW diutus untuk mengemban amanah kerasulan, yang berarti bahwa pendidikan adalah realisasi dari sebuah misi besar kehidupan. Muhammad SAW di utus dari kalangan mereka, yang berarti beliau bukan sosok yang jauh dari obyek kehidupan, bukan pula menara gading yang sulit di jangkau. Beliau dekat dan dekat sekali dengan para mutarobbinya.dan ini adalah sebuah karunia besar. Misi besar kerasulan dengan penuh kedekatan dan keakraban itu adalah: 1) Membacakan ayat-ayat Allah. 2) Mensucikan diri (dari berbagi dosa dengan mengajak mereka untuk selalu bertaubat dan berhenti melakukan maksiat). 3) Mengajarkan Al-Qur`an dan Hadits.

… membersihkan (jiwa) mereka

Pendidik harus memiliki kemampuan untuk membentuk jiwa dan kemuliaan nurani peserta didik, dengan senantiasa terus menekankan tentang pentingnya nilai-nilai moral dan proses pensucian jiwa (tazkiyatun nafs) secara berkesinambungan. Dalam kehidupan dewasa ini, ironisnya kebanyakan orang hanya berfikir untuk memperoleh Intelligent Questions (IQ), namun mengabaikan kualitas spiritual dan emosional.

Pada sisi ini, pendidik harus berada di garda depan sebagai sosok yang memiliki tingkat kesucian jiwa yang memadai. Hanya dengan cara ini proses tazkiyatunafs atau pensucian jiwa yang diarahkan kerpada para peserta didik itu akan bisa tercapai. Dan itu harus Nampak dalam sebuah sikap dan prilaku yang bisa dilihat dan dinikmati oleh peserta didik yang melihatnya. Kelembutan, kekhusyu’an, kejujuran, kasih sayang, sifat-sifat seperti ini harus ditangkap dengan baik oleh para peserta didik, atau minimal mereka punya kesan seperti itu kepada para pendidiknya. Kesan itulah yang nyata dalam diri para sahabat kepada pendidik agung mereka Rasulullah SAW. Di sinilah letak kekuatan sebuah keteladanan yang baik.

… mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah

Pendidik harus mengajarkan kepada peserta didik hikmah dan kebenaran, yang bersumber kepada Al Quran dan Sunnah. Peserta didik diharapkan setelah mengetahui dan mengamalkan dua sumber rujukan tersebut memiliki paremeter benar atau salah, layak atau tidak. Dalam prakteknya, Rasulullah mendorong umatnya untuk mengembangkan berbagai skill, seperti belajar memanah, menunggang kuda, berenang, menguasai bahasa asing dan lain sebagainya.

Semakin banyak ilmu seseorang, seharusnya dia semakin takut pada Allah karena bisa membaca kekuasaan-Nya. Bukan semakin sombong dan semakin jauh dari-Nya. Kwantitas dan kwalitas Ibadahnya semakin tinggi. Keikhlasannya semakin terasah. Dan kepribadiannya semakin prima menuju sempurna. Karena di dalam setiap ilmu itu menggambarkan betapa kuasanya Allah atas segala sesuatu. Nah dimanakah posisi kita??


*Anggota DPR RI Komisi IV

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *