6 KEBIASAAN OTAK SEHAT

Kebanyakan orang mengira bahwa otak sehat dan otak normal itu sama saja yaitu otak yang tidak terkena penyakit (strok, alzheimer, dll) atau tidak cacat. Ternyata tidak demikian. Otak sehat berbeda dengan otak normal.

Menurut Prof. Moh. Hasan Machfud, Ketua Umum Perdossi (Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia), yang dikutip oleh dalam buku “Tuhan Dalam Otak Manusia” (karya DR.Taufiq Pasiak) bahwa Otak Normal adalah otak yang lebih mewakili apa yang disebut keadaan fisiologis (bekerjanya secara baik fungsi-fungsi otak) dan tidak adanya keadaan patologis (penyakit dari otak).

Sedangkan Otak Sehat lebih mewakili suatu keadaan otak yang berkaitan dengan makna hidup dan spiritulitas.

Maka jelaslah bahwa ada perbedaan yang jelas dan tegas antara Otak Normal dan Otak Sehat bahwa Otak Normal lebih mengarah ke suatu substansi fisik dan biologi otak, sedang Otak Sehat lebih ke substansi yang lebih dalam lagi yang berkaitan dengan human being_ keberadaan manusia yang lebih sempurna dibandingkan dengan makluk lainnya seperti;  mengapa saya dilahirkan, dari mana saya berasal, untuk apa saya hidup dan kemana saya nantinya bila saya mati.

Keberadaan Otak Sehat mampu menjawab hal-hal yang bekaitan dengan human being tersebut.

Mewujudkan Otak Normal lebih mudah dari pada Otak Sehat. Dengan pengasuhan yang baik khususnya 1000 HPK (hari pertama kehidupan)_penuhi nutrisinya, latih emosinya, cegah penyakitnya dan seluruh komponen yang mendukung, maka pembentukan Otak Normal pada manusia terbentuk lengkap atau tanpa cacat.

Namun tidak dengan Otak Sehat. Mewujudkan Otak Sehat syarat utamanya harus ber-Otak Normal, kemudian dilakukan intervensi/latihan yang melibatkan kecakapan berpikir dan nilai-nilai spiritulitas.

Otak Normal yang biasa digunakan untuk berpikir benar (kecakapan berpikir) dan terbimbing oleh etika dan nilai-nilai spiritulitas (nurani) akan menjadi Otak Sehat.

Dengan kata lain bahwa membangun Otak Sehat memerlukan kebiasaan dalam menyiapkan/mengamankan Otak Normal, melatihnya dengan pikiran-pikiran yang membangun (konstruktif) dan menghadirkan nilai kemuliaan sebagai pembimbing.

Agar memudahkannya, saya membuat tips untuk mewujudkan Otak Sehat yang bernama “6 Kebiasaan Otak Sehat (The 6 Habits Of Healthy Brain)”, sebagai berikut:

1. Paham Otak
Cara kerja cortex prefrontal_otak bagian depan (dahi), mengajarkan bahwa pemahaman atas sesuatu yang akan kita kerjakan – why, what, how menjadi titik utama dalam pembangunan kesadaran kita.

Otak yang bekerja secara utuh (whole brain system) akan melahirkan kesadaran secara utuh. Kesadaran atas potensi hebat yang di anugerahkan Tuhan kepada manusia.

Otak bekerja dengan sistem yang sangat menajubkan. Milyaran sel saraf yang membentuk trilyunan sambungan yang akan menentukan hebat dan tidaknya seorang manusia. Semakin banyak dan kuat sambungannya, semakin “lancar” proses biokimia dan elektrik ditingkat sambungan (synaps) memungkinkan manusia semakin hebat.

Otak juga tumbuh dengan etika dan nilai-nilai. Etika yang baik dan nilai2 luhur merupakan bagian penting yang dapat mengasah potensi hebat yang ada di dalam otak manusia. Pikiran, perasaan dan perilaku/karakter merupakan “produk” yang di hasilkan dari sistem otak (brain system). Pikiran dan perilaku yang baik akan membaikkan struktur dan fungsi otak, struktur dan fungsi otak yang baik akan membaikkan pikiran dan perilaku. Demikian juga sebaliknya.

Memahami cara otak bekerja akan melahirkan kesadaran yang utuh dan menyeluruh.

2. Olah Otak
Olah Otak adalah salah satu cara untuk menjaga keberadaan Otak Normal yaitu otak yang bekerja baik, tidak cacat/cidera dan tidak terkena penyakit. Otak Normal adalah sebutkan otak yang secara struktur dan fungsinya normal serta tidak ada catat dan kondisi patologis.

Olah Otak memiliki kaitan yang sangat erat dengan fungsi organ tubuh lainnya. Pada masa kini, kesehatan sangat berkaitan dengan kejadian pada tingkat seluler seperti sistem kardiovaskuler (untuk mencegah penyakit jantung, stroke, gangguan ginjal) dan sistem otak (untuk mencegah kepikunan). Termasuk makanan dan tidur, dan manajemen kehidupan seksual. Olah Otak akan menciptakan Kecakapan Fisik.

3. Asah Pikir
Mengasah pikiran adalah sarana yang terbaik untuk menciptakan kecakapan berpikir. Kecakapan berpikir merupakan kecakapan inti dalam membangun kecakapan yang lainnya. Pribadi yang cakap berpikir memiliki pengetahuan dan ketrampilan dalam mengelola proses berpikir, seperti pemetaan masalah (problem mapping), pemecahan masalah (problem solving), berpikir kritis – analitis , berpikir kreatif – inovatif dan berpikir tumbuh.

4. Latih Emosi
Kecakapan emosi diperoleh dengan melatih emosi. Pribadi yang berkecakapan emosi memiliki pengetahuan dan ketrampilan dalam mengelola marah (Anger Management), mengelola stress dengan mengubah stres menjadi daya dorong kemajuan diri (Stress Management). Mengelola marah dan stres menjadi kekuatan dan daya dorong dalam pekerjaan dan kehidupan.

5. Cakap Sosial
Kecakapan sosial melahirkan pribadi-pribadi yang trampil dalam mengelola hubungan antar pribadi (kecakapan interpersonal). Kecakapan interpersonal menjadi kemampuan inti untuk trampil membaca kehendak dan keinginan orang lain bahkan bila keinginan itu disembunyikan. Dalam tataran praktek, seseorang yang memiliki kecakapan interpersonal akan mudah mengenali perbedaan dan menguatkan kerjasama dalam tim.

6. Nurani Yang Membimbing
Nurani disebut juga Spiritual, mengandung nilai-nilai kemuliaan. Nurani Yang Membimbing akan yang selalu hadir dalam setiap perencanaan dan pengambilan keputusan. Dirinya mengetahui dan trampil mengelola modal nurani ini, seperti ikhlas, sabar, ridho’, syukur, kejujuran (integritas), empati dan lain sebagainya serta mengelola sesuatu yang dipersepsi sebagai takdir/talenta yang tak bisa diubah. Spiritualitas adalah fungsi otak manusia yang paling tinggi. Hidup penuh makna (meaningfull life) adalah tujuan tertinggi kehidupan manusia. Ini adalah sumber kebahagiaan sejati. Nurani Yang Membimbing akan menciptakan Kecakapan Spiritual.

Penulis : Ust. dr. Amir Zuhdi (co-founder di neuronesia dan Neuro Leadership Indo esia)

(* gambar dari Art.Psichilogy ).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *